WARTATERA.COM

Indonesia Disebut Paling Aktif Manfaatkan Mobile Online

Dosen UIN Syarief Hidayatullah, Jakarta, Dr. Ismail Cawidu

Wartatera, Jakarta – Dosen UIN Syarief Hidayatullah, Jakarta, Dr. Ismail Cawidu, menyebut, Indonesia merupakan negara nomor satu di dunia yang membeli barang melalui online. Menurutnya, juga paling banyak memanfaatkan mobile online. Adapun media sosial yang paling banyak digunakan yaitu YouTube, WhatsApp dan ketiga Facebook.

Hal itu disampaikan saat menjadi narasumber dalam Seminar Merajut Nusantara secara daring yang diselenggarakan oleh BAKTI Kominfo berkerja sama dengan Komisi I DPR RI, Minggu (21/3/2021).

Ia mengungkapkan, berdasarkan data perkembangan penggunaan sarana komunikasi di Indonesia, bahwa jumlah penduduk Indonesia sebanyak 272 juta jiwa dengan penggunaan mobile sebanyak 338 juta jiwa dengan pengguna internet 175 juta jiwa. Kemudian pertumbuhan waktu 17 persen atau dengan perumbuhan 25 juta penggunaan nomor handphone.

“Yang harus kita cermati bahwa di dalam handphone kita ada terdapat jaringan, jaringan tersebut yang dibangun oleh Kominfo dan juga perangkatnya harus melalui uji oleh Kominfo. Kemudian ada operator telekomunikasi yang mengoperasikan sehingga kita bisa menikmati layanan tadi. Berdasarkan hal tersebut kita bisa memperdiksikan bahwa ada banyak orang yang bisa berbisnis hidup dari sebuah handphone, contohnya dia membuat aplikasi, konten dan sebagainya,” kata Ismail.

Ismail melanjutkan, semua orang harus menyadari bahwa sekarang sedang berada di dunia maya yang sudah menjadi dunia nyata. Menurutnya, seluruh komunikasi yang ada di dunia maya sudah menjadi apa yang terjadi dunia nyata. Untuk itu, bila tidak menggunakan teknologi dengan baik, maka akan tertinggal.

“Terdapat dua hal manfaat internet sesuai dengan tema hari ini, yaitu yang pertama manfaat untuk edukasi dan kedua untuk bisnis,” ujarnya.

Ismail menyebut, ada tiga pilar utama masyarakat digital memegang peranan penting dalam roadmap literasi digital di Indonesia, yaitu yang pertama pemerintahan digital, di mana seluruh aktivitas harus digitalisasi, yang kedua masyarakat digital dengan aktivitas digital, akrab dengan aplikasi, dan infrastruktur.

Ketiga yaitu ekonomi digital, di mana harus didukung dengan SDM digital, teknologi penunjang, serta riset dan observasi.

Kerangka kerja literasi digital tersebut dibagi menjadi empat, yaitu digital skill (mempersiapkan masyarakat untuk mengetahui, memahami, menggunakan perangkat TIK, serta sistem operasi digital) dalam kehidupan sehari-hari. Kedua digital culture (kemampuan individu dalam membaca, menguraikan, memeriksa, membangun nilai pancasila).

Ketiga yaitu digital etic (etika dalam menggunakan TIK) dan keempat digital safety (mendapatkan perlindungan).

Adapun program nasional literasi digital di 514 titik kabupaten/kota yaitu siberkreasi cakap digital (Dsar, Madya, Mahir) dan siberkreasi kelas inklusif (Defabel, daerah 3T, dan defabel lansia).

Menurut Ismail, pada 15 tahun ke depan Indonesia membutuhkan 9 miliar orang yang memiliki skill, di antaranya untuk level pimpinan digital melalui digital leadership academy, kemudian melalui digital talent intermediate digital, dan kemudian yang terakhir melalui basic digital literacy.

“Semuanya ini akan mengarah pada pembangunan ekonomi digital sebanyak 1000 digital Start-Up Movement, UMKM Go-Online, dan kemudian untuk pengembangan petani dan juga nelayan,” jelasnya.

Ia mengimbau, jika ada masyarakat yang belum mengetahui cara memindahkan bisnis ke dunia digital untuk segera mengiikuti terlebih dahulu beberapa program yang dilaksanakan Kominfo sebagai institusi yang bertanggung jawab dalam peningkatan SDM, melalui laman resminya.

Ia mengungkapkan, di Indonesia sudah terdapat 59 juta UMKM yang terdaftar, di mana hanya 7,7 persen yang berjualan secara online di platform e-commerce. Pada 2017 hanya 5,6 persen dari 59,2 juta penduduk, lalu pada 2019 sudah naik menjadi 8 persen atau sebanyak 66,6 juta. oleh sebab itu digitalisasi oleh sumber daya harus dipercepat.

Narasumber lainnya, anggota Komisi I DPR RI, Fraksi PDIP, Krisantus Kurniawan, mengatakan, pandemi Covid-19 menyebar secara massif di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Penerapan protokol kesehatan 3M dengan ketat adalah cara yang efektif untuk memutus mata rantai penyebaran pandemi Covid-19.

Menurut dia, hal ini tentu berdampak pada semua bidang di kehidupan, di antaranya bidang pendidikan, ekonomi, pariwisata, dan lain-lain. Kegiatan yang semula biasa dilaksanakan secara manual, sekarang beralih menjadi daring.

“Dengan demikian, kita dituntut untuk mengenal dan memahami lebih dalam lagi tentang pemanfaatan TIK sebagai salah satu solusi melawan Covid-19,” kata Kristanus.

Sementara, narasumber berikutnya, Mada Ayu Habsari dari Pembisnis Energi Baru dan Terbarukan, mengatakan, jaringan komunikasi di daerah terpencil, contohnya di daerah kalimantan di mana fasilitas yang ada 4 meter dari bandara dan sisanya melalui jalur sungai. Sehingga dari daerah satu dengan daerah yang lain tidak saling terhubung.

Dia mengungkapkan, sudah ada rencana pembangunan BTS dari Kominfo, di mana mayoritas penduduknya untuk melakukan perkebunan seperti kopi untuk dijual kepada masyarakat di luar daerah. Jika tanpa adanya komunikasi, tentu mereka akan sulit untuk mempomosikan produknya tersebut.

“Jika ada energi otomatis telekomunikasi akan sangat mudah untuk diakses. Banyak daerah terpencil yang masih sangat sulit dijangkau oleh jaringan karena kurangnya tower dan listrik yang ada,” katanya.

Mada mengungkapkan, pihaknya bekerja sama dengan SDM setempat melakukan adanya program Diesel Power Plant untuk Solar PV Plant. Dengan inisiasi menggunakan batre untuk operasi 24 jam selama satu minggu.

Dia menyebut, saat ini sudah ada lokasi yang sudah dibangun sebanyak 34 desa dan sekarang sedang melakukan pemetaan potensi-potensi di dearah tersebut, yaitu ada gula aren, kopi, dan kacang mete.

“Dengan adanya listrik dan komunikasi yang terjangkau komunitas di sana akan mendapatkan keuntungan, yaitu mempermudah akses atas informasi, ymempersingkat jalur biaya untuk memasarkan produk. Contohnya produk-produk yang sudah ibu-ibu setempat buat itu sudah dapat dipasarkan melalui online dengan luasnya pemasaran hingga luar negeri. Keuntungan lain yaitu proses jual beli akan lebih mudah,” paparnya.

Situs web ini menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Kami akan menganggap Anda setuju dengan ini, tetapi Anda dapat memilih keluar jika Anda mau. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy