WARTATERA.COM

SAATNYA BUANG DOLAR

JAKARTA–Anggaran.news: Sejak merebaknya virus corona (Covid-19) ke seluruh dunia, mata uang 189 negara anggota Dana Moneter Internasional (IMF) bergelimpangan. Indonesia termasuk yang mata uangnya babak belur, terdepresiasi hampir 20% menyentuh level terendah Rp16.550 per dolar AS.

Hanya tinggal Rp100 saja posisi dolar hari ini menyamai posisi dolar dimana Soeharto akhirnya lengser keprabon di level Rp16.650. Potensi dolar AS hari ini masih mungkin menembus level Rp17.000 dengan segala konsekuensinya. Padahal Januari 2020 dolar AS masih asik bertengger di level Rp13.500-an. Sehingga depresiasi rupiah hari ini adalah yang terdalam dibandingkan mata uang utama Asia lainnya.

Bahkan Bank Indonesia (BI) sudah berupaya melakukan intervensi sampai Rp309 triliun, and toh rupiah masih ndelosoh terhadap dolar AS seperti orang minder.

Tak hanya rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun mengalami nasib yang sama. Tahun lalu masih sempat menguat di level 6600. Kini tersungkur hampir meninggalkan level 4000 menuju level baru 3900-an.

Jika situasi seperti ini diteruskan maka lambat tapi pasti bisa menghancurkan 189 negara anggota IMF, termasuk Indonesia. Banyak negara akan lenyap diterpa krisis Covid-18. Oleh karena itu diperlukan satu sistem baru bernama Modern Monetary Theory (MMT) untuk menyudahi situasi krisis ini.

Adalah Mardigu Wowiek, pemrakarsa teori MMT. Ia mengatakan negara-negara di dunia, utamanya negara muslim yang memang berupaya melakukan dedolarisasi atau ‘membuang dolar’.

Mereka mempertimbangkan untuk menjadikan dinar emas sebagai alat pembayaran internasional.

Konsep dasar MMT memang melakukan dedolarisasi atau kita berusaha melepas ketergantungan terhadap dolar AS dan prakarsa ini sudah ada sejak tahun 2009.

Mardigu melihat ada berbagai alasan mengapa negara-negara dunia, khususnya negara islam, mulai membuang dolar AS. Salah satunya adalah karena mereka menganggap ketergantungan pada dolar sebagai hal yang tidak baik.

Di mana pada 2008 terjadi krisis subprime mortgage, krisis kredit dan financial engineering sektor perumahan, benar-benar dunia merasa ketergantungan terhadap dolar AS itu tidak baik. Karena nilai aset down sizing luar biasa oleh karena dokarnya ndak karu-karuan, saham anjlog, sehingga pelaku pasar banyak yang stress.

Alasan lain yang membuat negara-negara dunia mempertimbangkan untuk membuang dolar AS adalah karena mata uang itu bukanlah mata uang riil, karena dolar AS dicetak tanpa menggunakan jaminan emas lagi.

Jadi pada 18 agustus 1971, untuk pertama kalinya Amerika Serikat menyatakan mem-print dolar tidak menggunakan jaminan emas lagi. Jadi AS mencetak dolar suka-suka tanpa jaminan apapun. Seperti gelembung nilai yang akhirnya meletus. Sejak saat itu sebenarnya dunia sudah menantang Amerika karena dolar AS semakin liar tanpa kendali, tapi Amerika sedang kuat-kuatnya. Nah saat ini ada satu negara yang besar yang namanya China, yang ekonominya nomor satu di dunia, yang merasa eksistensi dolar AS tidak fair karena mem-print mata uang tidak berdasarkan jaminan emas dan itu diucapkan di tahun 1971.

Sejak saat itu, sekali lagi dolar AS itu tidak riil, karena itu aksi buang dolar AS atau dedolarisasi perlu dilakukan. Mata uang yang benar harus ada pegangan yang riil. Harus ada patokannya. Diharapkan dinar bisa menjadi mata uang riil alternatif.

Pernyataan Mardigu tersebut disampaikan di tengah-tengah meningkatnya antusiasme negara-negara muslim seperti Malaysia, Iran, Turki dan Qatar dalam menjadikan dinar sebagai mata uang internasional.

Baru-baru ini mantan Perdana Meneteri Malaysia Mahathir Mohammad juga membahas masalah ini. Mahathir bahkan dikabarkan sedang mengkaji dan telah menyetujui konsep tersebut.

Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Negara Islam Dunia, Mahathir menyarankan perdagangan menggunakan mata uang berbasis emas, yakni dinar, sebagai senjata untuk bertahan dari embargo ekonomi yang dilancarkan oleh negara barat.

“Saya menyarankan … gagasan perdagangan menggunakan dinar emas dan perdagangan sistem barter di antara kita, kami serius melihat ini,” kata Mahathir.

Menanggapi pernyataan Mahathir ini, Mardigu berpendapat bahwa saat ini dunia memang sedang menunggu dinar untuk dijadikan sebagai mata uang internasional. Dinar akan menjadi mata uang dengan emas sebagai jaminan.

“Ini berbeda, yang disebut modern monetary theory yang mengadopsi dinar yang diusulkan oleh Mahathir Mohammad, beliau sudah mempelajari bukan sekedar dia mengucapkan terus tanpa basis theory. Tapi dia melihat bahwa saat ini emas itu bisa menjadi patokan, yang ini sudah ditunggu-tunggu oleh dunia…” jelasnya.

Gagasan buang dolar di saat krisis mata uang dunia, yang dipicu oleh penyebaran Covid-19 rasanya tepat. Inilah momentumnya negara-negara di dunia, yang bisa dimotori negara-negara muslim, menggunakan dinar yang berbasis emas menghadirkan mata uang tunggal dinar.

Berbeda dengan dolar AS yang dicetak suka-suka tanpa batas, tanpa jaminan, tanpa anchor, sehingga menciptakan inflasi mata uang 189 negara anggota IMF luar biasa. Maka dinar memberi kepeastian inflasi nol karena setiap satu dinar yang dicetak anchor atau acuannya adalah emas. Ada garansi, sehingga saru ekor kambing di zaman Rasulullah seharga 1 dinar, sama dengan harga kambing hari ini setara 1 dinar.

Padahal sudah melintas waktu 14 abad, tapi tetap memberikan stabilitas harga. Karena apa? Karena setiap dinar yang ditransaksikan digaransi dengan emas yang setara nilainya dengan dinar tersebut. Sehingga tidak ada gelembung nilai di dalamnya.

Bayangkan, di atas stabilitas, para pebisnis bisa membuat rencana dengan baik, para birokrat bisa merancang anggaran dengan presisi, para negarawan bisa membangun infrastruktur tanpa takut beban inflasi dan bunga utang yang disetir IMF, Bank Dunia dan para   lembaga pemburu rente lainnya.

Dengan krisis virus corona yang menyebar ke seluruh dunia kita disadarkan, mata uang sudah jatuh, indeks saham tersungkur, begitu juga valuasi aset konglomerat mengalami down sizing luar biasa. Dalam sehari kekayaan 500 konglomerat hilang Rp4.900 triliun karena IHSG anjlog. Kekayaan pemilik Djarum, Budi Hartono, hilang Rp199,09 triliun. Karena apa, karena semua dipatok dengan dolar AS yang tidak riil, sangat inflatoar, berfluktuasi secara liar, sampai batas nwgara Paman Sam sendiri tak mampu mengendalikannya.

Saatnya buang dolar AS, mari kita terapkan MMT, mari kita pakai dinar sebagai mata uang alternatif. (dj)

TOLAK OPSI PENYELAMATAN JIWASRAYA MENGGUNAKAN DANA APBN

Ayomi

SPIRIT SEJATI

Ayomi

SEPENUH HATI

Ayomi

SAAT KEDAULATAN NKRI DIINJAK-INJAK TKA CHINA

Ayomi

PERINGKAT UTANG INDONESIA NAIK JADI BBB+

Ayomi

Peran Komunikator Politik di Pilkada 2020

hendrik.albrani

Situs web ini menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Kami akan menganggap Anda setuju dengan ini, tetapi Anda dapat memilih keluar jika Anda mau. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy